Bagaimana Tata Cara Seseorang Berjenjang Menaikkan Dirinya di Jalan Dakwah Islam?

Yang Mulia Al-‘Allamah Al-Muhadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata:
“Hal demikian tidak diragukan lagi butuh kepada dua hal yang tampak bagi saya:
• Hal pertama: untuk menjaga hubungan dengan para ulama, baik mereka yang masih hidup dalam kitabnya atau masih hidup dalam dakwahnya. Yaitu: dia harus mempunyai hubungan dekat dengan kitab-kitab para ulama yang dikenal keistiqamahan (kelurusan dan benarnya) mereka dalam aqidah (keyakinan) mereka. Maka dia jangan terputus dari merujuk, membaca, mentelaah dan mencari tambahan ilmu dari mereka, karena hal itu membantunya untuk naik dan untuk beranjak dalam dakwahnya kepada Allah.

• Hal kedua: hendaknya dia memperbanyak berhubungan dengan para ulama yang masih hidup, terutama mereka yang dikenal bahwa aqidah (keyakinan) mereka baik dan akhlaknya mulia baik. Karena kita tahu bahwa suri teladan yang baik (qudwah hasanah) memiliki teladan yang baik mempunyai pengaruh yang besar pada orang yang berteladan dengan mereka. Jika seseorang atau seorang ‘alim atau syeikh yang dijadikan teladan mempunyai sesuatu penyimpangan pemikiran atau akhlak, tidak mustahil orang atau syeikh itu mempengaruhi orang yang berhubungan dengannya atau mengambil ilmu darinya.
Telah diketahui dan dikenal banyak hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk berteman dan mendekati orang-orang shalih, seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لا تصاحب إلا مؤمنًا ، ولا يأكل طعامك إلا تقي
“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan seorang mukmin, dan janganlah makananmu dimakan kecuali oleh orang yang bertaqwa.”
Wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini agar kita berteman dengan muslim yang bertaqwa, hanyalah karena pengaruh orang yang shalih berpengaruh kebaikan kepada orang yang berteman dengannya. Oleh karena itu datang dalam Shahih Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
مثل الجليس الصالح كمثل بائع المسك، إما أن يحذيك أي: يعطيك، وإما أن تشتري منه، وإما أن تشم منه رائحة طيبة، ومثل الجليس السوء كمثل نافخ الكير، إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تشم منه رائحة كريهة
“Permisalan teman duduk yang shalih adalah seperti penjual minyak kesturi; apakah dia akan memberimu, atau engkau akan membeli minyak wanginya darinya, atau engkau akan menghirup bau yang harum. Sedangkan permisalan teman duduk yang jelek adalah seperti tukang besi, apakah dia akan membakar pakaianmu atau engkau mencium bau tak sedap darinya.”
Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin untuk beranjak dan naik dalam jalan dakwah, maka harus menjaga dua hal berikut:
Hal pertama: harus banyak berhubungan dengan kitab-kitab ulama terdahulu yang dikenal ilmunya yang bermanfaat dan aqidahnya yang benar.
Hal kedua: jika dia juga mampu berada dalam masyarakat yang memiliki ulama dan orang shalih, untuk berhubungan berkomunikasi dengan mereka sebisa mungkin, sehingga dia terpengaruh dengan jalan hidup mereka dan mengambil akhlak dan jalan hidup mereka.

Komentar ditutup.

%d bloggers like this: