Kenapa haram/bid’ah ikut madzhab salaf? (1)

Wajib untuk mengikuti manhaj salaf
Jawaban terhadap orang yang mencela pengikut manhaj salaf

Sepantasnya seorang yang mencela manhaj salaf (salafi/salafy) untuk tobat dari ucapan-ucapannya dan pemikiran (ra’yu)nya, yang telah jelas menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman para shahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka termasuk para imam madzhab dan lainnya seperti Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, serta Imam Muslim.

Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan
Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab seorang yang memusuhi dakwah Salafiyah:
“Dia mengira bahwa kami meninggalkan madzhab hambali sebagaimana dikatakan dalam risalahnya dan kami mengingkari untuk mengikuti madzhab yang empat karena mengaku salafiyah. Padahal kami hanyalah beramal dengan pendapat yang berlandaskan dalil baik dari madzhab yang empat atau yang lainnya. Inilah yang diwasiatkan oleh imam yang empat dan lainnya -semoga Allah merohmati mereka-. Sebagaimana telah diketahui dari ucapan mereka. Dan mengikuti Madzhab Hambali atau yang lainnya dari madzhab yang empat tidak bertentangan dengan salafiyah, sebagaimana dituduhkan kepada kami bahwa kami berpandangan bahwa hal itu bertentangan dengan salafiyah. Bahkan mengikuti mereka adalah salafiyah itu sendiri.” (Risalah Ar-Radd ‘Ala Ar-Rifa’i)

Berikut ini kami bawakan jawaban Syaikh Shalih Al-Fauzan terhadap kebohongan seseorang yang memusuhi dakwah Salafiyah yang dibela oleh Dr. Ramadhan Al-Buthiy):

[Inilah beberapa perkataannya dan aku akan menjelaskan celaannya, beserta bantahannya: ….
• Dia mencela kita: Melarang orang-orang ghuluw (berlebih-lebihan) di sisi kamar (kuburan) Nabi, dan mencukupkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan salam yang disyariatkan yang dilakukan oleh para sahabat ketika mereka datang dari bepergian, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan yang lainnya dari para sahabat.
• Dia mencela kita: Melarang ghuluw terhadap orang mati ketika menziarahi kubur mereka, dan mencukupkan untuk memberi salam kepada mereka dan berdoa sebagaimana yang ada dalam ziarah syar’i, dan yang mengingatkan akhirat dengan menziarahi mereka dan persiapan untuk akhirat.
• Dia mencela kita: Melarang membuat bangunan di atas kubur beramal dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Ali bin Abi Tolib:
لا تدع قبراً مشرفاً إلا سويته
“Janganlah engkau membiarkan satu kubur yang menonjol kecuali kamu ratakan.”
Dan Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنـبـيـائهم وصالحيهم مساجد ألا فلا تتخذوا القبور مساجد. فإني أنهاكم عن ذلك
“Sesungguhya orang yang sebelum kalian mereka mengambil kubur-kubur nabi-nabi mereka dan orang-orang solih mereka sebagai masjid (tempat ibadah), ingatlah janganlah kalian mengambil kubur-kubur sebagai masjid (tempat ibadah), sesungguhnya aku melarang dari yang demikian.”
Demikian itu karena hal ini adalah termasuk sarana-sarana kesyirikan.
• Dia mencela kita: Melarang Kitab Dalailul Khoirot dan yang semisalnya dari kitab-kitab sesat untuk masuk ke Kerajaan Saudi Arabia karena di dalamnya ada kesyirikan-kesyirikan dan ghuluw terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal demikian untuk menjaga akidah kaum muslimin dari ghuluw yang diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan bagaimana kita memberi solawat kepada beliau:
قولوا اللهم صل على محمد وعلى آل محمد
“Katakanlah: ” اللهم صل على محمد وعلى آل محمد (Semoga solawat dan salam atas Muhammad dan keluarga Muhammad)”
sampai akhir hadits. Dan kita tidak butuh kepada solawat bid’ah dalam Kitab Dalaiul Khoirot atau yang lainnya.
• Dia mencela kita: Melarang hari raya ulang tahun sehubungan dengan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hal tersebut adalah bid’ah yang diada-adakan yang tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan para tabiin yang mengikuti mereka dengan baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بـها، وعضوا عليها بالنواجذ. وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة
“Maka wajib atas kalian dengan sunnahku dan sunnah kulafaur rosyidin setelahku, berpegang-teguhlah kalian dengannya, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan kesesatan ada dalam neraka.”
Dan masuk dalam hal demikian adalah bid’ah hari raya ulang tahun kelahiran. Barangsiapa melakukannya maka dia adalah mubtadi’.

• Dia mencela kita: meninggalkan qunut dalam solat subuh kecuali dalam keadan ada suatu kejadian. Karena tidak ada dalil atasnya dalam selain keadaan ini. Dan jumhur ulama tidak berpendapat dengan hal ini. Dan yang wajib adalah mengikuti dalil. Ketika sebagian sahabat ditanya tentang hal itu dia berkata: hal itu bid’ah.

• Dia mencela kita: melarang untuk menghidupkan atsar-atsar (peninggalan-peninggalan) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada salah satu sahabat dengan alasan untuk menutup jalan-jalan yang menyampaikan kepada kesyirikan, seperti: tabarruk (minta berkah) dengan atsar-atsar tesebut, dan meyakini suatu keyakinan tertentu kepada atsar-atsar tersebut. Dan ini adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Mereka tidak mengambil perhatian dengan atsar-atsar ini dan tidak pergi menuju atsar-atsar ini. Dan belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah diutus pergi ke gua Hiro’, tidak juga ke gua Tsur, atau ke tempat peperangan Badar, dan juga tidak ke tempat beliau dilahirkan di Mekkah. Salah seorang sahabat juga tidak melakukan yang demikian. Bahkan Umar  memotong pohon yang di bawahnya terjadi bai’atur ridwan pada tahun Perjanjian Hudaibiyah, ketika umar melihat sebagian orang pergi menuju pohon tersebut karena kawatir perbuatan ghuluw terhadap pohon tersebut. Ketika sebagian sahabat yang baru masuk Islam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Buatkan Dzatu Anwath untuk kami sebagaimana Dzatu Anwath milik mereka”. Yaitu pohon yang mereka meminta berkah dengan pohon tersebut dan mereka gantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut. Sebagimana yang dilakukan orang musyrikin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى: اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan perkataan seperti perkataan Bani Isroil kepada Musa: Jadikan satu sembahan untuk kami sebagaimana mereka mempunyai sembahan-sembahan.”
Maka tabarruk (meminta berkah) dengan atsar-atsar dan menghidupkannya adalah sarana menuju kesyirikan dan peribadahan selain Allah, sebagaimana terjadi pada kaum Nabi Nuh ketika mereka ghuluw dengan atsar-atsar orang-orang solih sampai perkara itu mengembalikan mereka kepada pengibadahan atsar-atsar selain pengibadahan kepada Allah.

• Dia mencela kita: Melarang menulis Burdah Al-Bushairi di dinding karena di dalamnya dan pada yang semisalnya ada ghuluw dan kesyirikan-kesyirikan yang tidak tersembunyi bagi orang yang mempunyai bashiroh. Contoh perkataannya tentang hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ما لي سواك مـن ألـوذ بـه عند حلول الحادث العمم
“Tidak ada selain engkau bagiku, orang yang aku berlindung dengannya saat terjadinya kejadian yang banyak.”
Dan juga perkataan Al-Bushairi: “Sesungguhnya dunia dan akhirat adalah dari kedermawanan Nabi. Adapun apa yang ditulis pena (al-qolam) di Lauhul Mahfudz adalah sebagian ilmu Nabi.” Dan perkataan lainnya dari kekufuran-kekufuran dan kesyirikan-kesyirikan yang disebabkan karena dia terseret oleh ghuluw.

• Dia mencela kita: Memisah wanita dari laki-laki di Masjidil Harom dan Masjidin Nabawiy dan masjid-masjid lain, karena mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dulu pada masa beliau wanita berdiri di belakang sof lelaki, dengan alasan untuk menjaga para wanita dan menjaga laki-laki dari fitnah dan terfitnah dengan wanita-wanita tersebut.

• Dia mengira bahwa kami meninggalkan madzhab hambali sebagaimana dikatakan dalam risalahnya dan kami mengingkari untuk mengikuti madzhab yang empat karena mengaku salafiyah. Padahal kami hanyalah beramal dengan pendapat yang berlandaskan dalil baik dari madzhab yang empat atau yang lainnya. Inilah yang diwasiatkan oleh imam yang empat dan lainnya -semoga Allah merohmati mereka-. Sebagaimana telah diketahui dari ucapan mereka. Dan mengikuti Madzhab Hambali atau yang lainnya dari madzhab yang empat tidak bertentangan dengan salafiyah, sebagaimana dituduhkan kepada kami bahwa kami berpandangan bahwa hal itu bertentangan dengan salafiyah. Bahkan mengikuti mereka adalah salafiyah itu sendiri.”
Demikian juga termasuk hal yang aneh dari yang diingkari oleh Ar-Rifa’i adalah ta’liq (pemberian keterangan) Syaikh Ibnu Baz -semoga Allah merohmati beliau- terhadap kitab Fathul Bari. Dan ini tidak ada pengingkaran di dalamnya. Ulama terus-menerus memberi ta’liq pada kitab-kitab dan menjelaskan al-hak dari kesalahan kepada manusia.] (Risalah Ar-Radd ‘Ala Ar-Rifa’i)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: