Khutbah Kelembutan Allah terhadap Para Hamba Ketika Masa Kesempitan

Kelembutan Allah terhadap Para Hamba
Ketika Masa Kesempitan
Khutbah oleh Syaikh Abdurrahman As-Sa’di
الْحَمْدُ للهِ الرَّؤُوفُ الرَّحِيمِ، الْبَرُّ الْجَوَّادُ الْكَرِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْعَظِيْمُ، لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، وَالصِّفَاتُ الْعُلْيَا وَاْلإِحْسَانِ الْعَمِيْمِ، وَلَهُ الرَّحْمَةُ الْوَاسِعَةِ وَالْحِكْمَةُ الشَّامِلَةُ، وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي قَالَ اللهُ فِيْهِ: {وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ} اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدً وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ هُدُوا إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ . أَمَّا بَعْدُ
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya ruhnya takwa adalah bersyukur kepada Allah atas kenikmatan-kenikmatan-Nya, sabar dan ridho dengan takdir-Nya yang pahit, bersyukur kepada-Nya atas perkara yang disuka dan dicintai, tadhorru’ (merendahkan diri) kepada Allah ketika waktu yang tidak disuka dan kesempitan.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ))
“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, sesungguhnya perkaranya semua baik. Jika dia ditimpa kebaikan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesempitan dia bersabar, maka itu baik baginya. Dan tidaklah hal itu bagi seorang kecuali seorang yang beriman.” (HR. Muslim dari Shuhaib)
Ketahuilah, bahwa dalam perbuatan Allah menakdirkan kesempitan dan perkara yang tidak disukai ada hikmah-hikmah yang tidak tersembunyi, ada kelembutan Allah dan keringanan-keringanan yang tak terbatas dan berujung. Seorang yang beriman ketika ditimpa perkara yang tidak menyenangkan, dia mengambil keuntungan terhadap Tuhannya, sehingga dia termasuk orang yang beruntung, dia memperoleh keuntungan dengan menunaikan tugas kesabaran, sehingga Allah akan menyempurnakan pahala orang-orang yang bersabar untuknya. Orang itu akan mengharapkan pahala dan ganjaran, sehingga dia memperoleh pahala orang-orang yang suka mengharap pahala Allah. Orang ini menunggu kelapangan dari Allah, sehingga dia menghimpun ganjaran orang-orang yang berharap keutamaan Allah. Sesungguhnya termasuk ibadah yang paling utama adalah menunggu kelapangan yang segera dan mengharapkan pahala akhirat.
Allah akan menguji para hamba-Nya. Jika Allah telah menguji, Allah akan berbuat lembut dan memberinya pertolongan. Jika perkara-perkaranya menjadi sukar dari satu sisi, perkara itu akan mudah dari arah-arah yang lain. Di dalam perkara itu ada kelembutan dan anugerah. Tidakkah kalian melihat ketika Allah menakdirkan dengan hikmah-Nya tertahannya hujan dan terjadinya kekeringan para tumbuh-tumbuhan, bagaimana Allah bersikap lembut kepada kalian dengan menyelingi musibah ini dengan kenikmatan yang berturut-turut, pertolongan-pertolongan, dan anugerah yang melimpah ruah. Allah memberikan kepada kalian kenikmatan peralatan modern yang digunakan dalam pertanian dan perkebunan, yang bisa mengeluarkan air. Dan yang disusul peralatan angkutan untuk seluruh bahan makanan dari yang primer dan penyempurna, serta yang mengenakkan jiwa. Kalau kekeringan ini menimpa manusia tanpa keadaan ini, sungguh pertanian akan rusak dan akan ditolak peralatan angkutan, karena sedikitnya dan lemahnya peternakan. Dan sungguh akan terjadi kelaparan dan bahaya pada manusia, yang Allah telah melindungi dari kejelekannya. Sebagaimana termasuk dari kelembutan-Nya adalah apa yang dipermudah bagi para hamba dari banyaknya pekerjaan tertentu atas rizki dan penghidupan. Sehingga dengannya tegak urusan orang kaya dan orang fakir, dan menjadi sempurna dengannya pertumbuhan/kecukupan.
Betapa banyak keutamaan Allah yang agung atas kita. betapa banyak Allah melimpahkan kebaikan yang merata. Maka wajib kita untuk bersyukur kepada Allah dengan mengakui kenikmatan-Nya dan pertolongan-Nya, dengan memberitakan kenikmatan itu dalam setiap perkara yang menyenangkan seseorang dari kita dan menampakkannya, dan memakai kenikmatan itu dalam ketaatan Allah dan mengikuti perkara-perkara yang diridhoi Allah. Wajib kita untuk bersabar dan ridho dalam perkara yang telah diatur dan ditakdirkan Allah, dan hendaknya kelapangan Allah menjadi perhatian mata kita dan arah hati kita, harapan kepada keutamaan Allah menjadi puncak tujuan kita dan ujung sasaran kita. Kita tidak berharap kepada satu makhluk, tidak kepada orang yang pelit, dan tidak kepada orang yang tidak punya. Kita hanya berharap kepada Tuhan Yang Maha Kaya Yang Penderma dan Mulia. Allah tidak merasa bosan dengan orang-orang yang mendesak dalam meminta. Allah tidak peduli dengan banyaknya yang diberikan dan pengabulan permintaan orang-orang. Allah meratakan manusia semua dengan keutamaan, kebaikan, serta pemberian-Nya. Allah melingkupi makhluknya semua dengan kenikmatan dan anugrah-Nya. Allah memerintahkan kepada kita untuk berdoa dan meminta. Allah menjanjikan kepada kita untuk memenuhi dan banyaknya bagian (yang diperoleh).
{ اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ }
“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy-Syuro: 19)
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم .
(Diterjemahkan dari: Al-Fawakih Asy-Syahiyah Fi Al-Khuthob Al-Mimbariyyah)

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: