Bid’ah Lebih Bahaya Daripada Dosa-dosa Besar

Oleh: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah

Kitab Fadhul Islam bag 8:

BAB TENTANG
BID’AH LEBIH BERBAHAYA DARIPADA DOSA-DOSA BESAR1
Dan firman Allah ta’ala:
( إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” ( QS. An-Nisa: 48).
Dan firman-Nya:
( فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِباً لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ)
“Maka siapakah yang lebih zholim daripada orang-orang yang membuat kedustaan terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” ( QS. Al-An’am: 144).

Dan firman-Nya:
(لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ )
“(Ucapan mereka) itu menyebabkan mereka memikul dosa-dosa mereka sendiri dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.”2 (QS. An-Nahl: 25).
Dan dalam Ash-shohih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang-orang khowarij:
(( أينما لقيتموهم فاقتلوهم، لئن لقيتهم لأقتلنهم قتل عاد))
“Di mana saja kalian temui mereka, bunuhlah mereka. Seandainya saja aku menjumpai mereka, sungguh aku akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan kaum ‘Ad.” 3
Dan di dalam Ash-Shohih, bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
(( نهى عن قتل أمراء الجور))
“Melarang untuk membunuh penguasa yang fajir.”4
Dan dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang laki-laki yang bersedekah kemudian orang-orang mengikuti (perbuatannya itu), maka Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ ))
“Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah yang baik (sunnah hasanah) di dalam Islam maka baginya pahala sunnah yang baik tersebut, dan pahala orang-orang yang melakukan sunnah yang baik itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan suatu sunnah yang jelek (sunnah sayyiah) di dalam Islam, maka dia akan menanggung dosa sunnah yang jelek itu dan dosa orang-orang yang melakukan sunnah yang jelek itu setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”5 Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
Dan Al-Imam Muslim meriwayatkan yang semisal dari hadits Abu Huroiroh, dan lafadznya:
(( من دعا إلى هدى، ثم قال: ومن دعا إلى ضلالة ))
“Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah”. Kemudian bersabda: “Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan.”
========================
Ta’liq Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
1. Dan maknanya: bahwa bid’ah itu lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar, karena bid’ah itu mengurangi Islam, membuat sesuatu hal yang baru di dalam Islam, dan menuduh Islam mempunyai kekurangan. Oleh karena itu dia membuat bid’ah dan menambah-nambahi. Adapun kemaksiatan itu adalah mengikuti hawa nafsu dan menaati syaithon. Maka ini lebih ringan daripada bid’ah, dan pelaku kemaksiatan kadang bertaubat, bersegera (kepada kebaikan), dan mendapat nasehat. Adapun pelaku bid’ah, dia menyangka bahwa dirinya benar, bahwa dia seorang mujtahid, sehingga dia meneruskan bid’ahnya. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu. Pelaku bid’ah itu menyangka bahwa agama ini kurang, sehinggah butuh terhadap bid’ahnya. Oleh karenaitu, perkara bid’ah itu lebih berat dan lebih berbahaya dibanding maksiat. Allah Ta’ala berfirman tentang pelaku maksiat:
(وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ)
“Dan Dia mengampuni dosa-dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48).
Maka pelaku maksiat itu di bawah masyi’ah (kehendak) Allah. Adapun pelaku bid’ah maka dosa mereka itu besar dan mereka itu sangat berbahaya, karena bid’ah mereka itu maknanya bahwa menganggap kurang Islam dan Islam butuh terhadap bid’ah ini. Pelaku bid’ah itu menyangka bahwa dia adalah orang yang benar dan dia terus menerus di atas bid’ahnya, tetap di atas bid’ahnya, dan saling membela bid’ahnya. Kita memohon al-‘afiyah (keselamatan) kepada Allah.
2. Allah Ta’ala berfirman:
(وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ)
“Dan (mereka memikul) sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan.”
Maksudnya: dia akan memikul semisal dosa-dosa orang-orang yang mengikuti bid’ahnya. Kita memohon al-‘afiyah (keselamatan) kepada Allah.
3 (لئن لقيتهم لأقتلنهم قتل عاد)
“Seandainya aku menjumpai mereka, sungguh aku akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan kaum ‘Ad.”
Hal ini karena besarnya (bahaya) bid’ah mereka. Mereka telah membuat pengkaburan terhadap manusia, sehingga mereka sangat bersungguh-sungguh dalam bacaan al-qur’an dan sholat, sampai Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mereka:
(( يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وقراءته مع قراءتهم ))
“Salah seorang dari kalian akan memandang remeh sholatnya dibanding sholat mereka, juga bacaan al-qur’annya dibanding bacaan al-qur’an mereka.”
Kemudian mereka menyerang dan membunuh kaum muslimin. Ini karena kelancangan mereka yang buruk. Mereka memerangi ‘Ali bin Abi Tholib. Mereka membunuh ‘Umar bin Khorijah. Mereka juga membunuh orang yang berjumlah sangat banyak. Semuanya karena kebid’ahan dan kesesatan mereka. Sampai Allah menolong ‘Ali bin Abi Tholib atas mereka, sehingga ‘Ali membunuh mereka. Maka orang-orang khowarij itu kejelekannya sangat besar karena mereka menyangka mereka adalah orang-orang yang benar dalam membunuh para penguasa dan manusia lainnya yang bermaksiat. Dan ini karena kebodohan dan kesesatan mereka. Oleh karena itu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mereka:
(( أينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجراً لمن قتلهم ))
“Dimana saja kalian temui mereka, maka bunuhlah mereka. Sesungguhnya dalam membunuh mereka ada pahala bagi orang yang membunuh mereka.”
Dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
(( لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد )).
“Seandainya aku menjumpai mereka maka aku akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan kaum ‘Ad.”
=> Asy-Syaikh Ibnu Baz -rohimahullah- ditanya: “Apakah bid’ah itu berada di bawah masyi’ah (kehendak) Allah selama bid’ah itu bukan bid’ah yang menjatuhkan kepada kekafiran?”
Samahatusy Syaikh Ibnu Baz menjawab: “Bid’ah-bid’ah itu tidak termasuk dosa-dosa, karena bid’ah itu diancam dengan neraka. Wal ’iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari hal itu). Kecuali apabila dia bertaubat kepada Allah. Kita memohon keselamatan kepada Allah. Akan tetapi apabila bid’ah itu bukan suatu kesyirikan, maka pelakunya masih bisa diharapkan, karena bid’ah yang seperti itu termasuk dalam makna itu dari sisi maksiat. Akan tetapi itu tidak termasuk dalam firman Allah ta’ala:
(وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ)
“Dan Allah mengampuni dosa-dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya,” dalam satu keumuman.
Tetapi bila pelaku bid’ah itu melakukan bid’ah yang di bawah syirik, maka bid’ah itu mendapat hukum maksiat dari sisi bahwasanya dia tidak kekal di dalam neraka apabila dia masuk neraka.” Selesai ucapan Asy-Syaikh Ibnu Baz rohimahullah.
4. Maksudnya: para penguasa yang fajir dan zholim selama mereka masih beriltizam dengan Islam maka tidak boleh untuk memberontak terhadap mereka, bahkan mereka dinasehati. Adapun apabila mereka (para penguasa itu) melakukan kekufuran yang jelas, maka wajib memerangi mereka atas orang yang memiliki kekuatan, jika di sana ada satu kekuatan yang mampu. Aku katakan: yaitu untuk melenyapkan mereka tanpa menimbulkan gangguan terhadap kaum muslimin.
5. Ini maksudnya: menghidupkan dan menampakkannya. Bukanlah yang dimaksud di sini suatu bid’ah. Tetapi yang dimaksud di sini adalah menghidupkan sunnah dan menampakkannya. Karena Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat suatu kaum fuqoro, ketika Rosulullah melihat kefakiran mereka, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada manusia, mendorong dan menyemangati mereka untuk bershodaqoh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ )).
“Seorang laki-laki menyedekahkan sebagian dinarnya, sebagian dirhamnya, sebagian pakaiannya, sebagian sho’ gandumnya, sebagian sho’ kurmanya.” Hingga beliau berkata: “Walau dengan separoh kurmanya.” Perowi berkata: Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki dari kalangan Anshor dengan membawa satu wadah yang hampir saja telapak tangannya tidak mampu membawanya bahkan telapak tangannya tidak mampu membawanya. Dia (perowi) berkata: Kemudian orang-orang mengikuti perbuatan laki-laki tersebut, hingga aku melihat dua tumpukan makanan dan pakaian. Sampai aku melihat wajah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseri-seri dan bercahaya (karena senang dan gembira). Maka Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah yang baik di dalam Islam maka baginya pahala sunnah tersebut dan pahala orang-orang yang melakukan sunnah yang baik itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menghidupkan suatu sunnah yang jelek di dalam Islam, maka dia akan menanggung dosa sunnah yang jelek tersebut dan dosa orang-orang yang melakukan sunnah yang jelek tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”
=> Syaikh rohimahullah ditanya: “Apakah orang yang memuji ahlul bid’ah itu digolongkan dengan mereka?”
Jawab syaikh: “Ya, ini tak disangsikan lagi, bahwa barangsiapa yang memuji mereka maka berarti dia mengajak kepada ahlul bid’ah tersebut, dia termasuk dari da’i-da’i mereka. Kita memohon al’afiyah (keselamatan) kepada Allah.”

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: