Ditokohkannya Orang Yang Jahil (Tak Berilmu) Di Jajaran Para Ulama Besar!

Oleh: Syaikh DR Abdussalam bin Burjis Alu Abdil Karim rahimahullah

Segala puji bagi Allah, dan semoga shalawat dan salam tercurah atas Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya.

Perkara yang ditakutkan atas ummat dari orang-orang yang mengenakan pakaian ilmu syar’i -padahal mereka tidak ada apa-apanya dalam ilmu syar’i -, adalah ketakutan yang tulus atas ummat ini dari kerusakan dan penyimpangan. Demikian itu karena dikedepankannya orang-orang yang bodoh pada masa tidak adanya para ulama yang shodiq (jujur) dan mapan (dalam ilmunya) adalah sebuah pintu yang luas untuk (masuknya) kesesatan dan penyesatan.

Hal itu yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, seperti dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعًا ينتزعه من العباد ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء ، حتى إذا لم يُبْقِ عالمًا اتخذ الناس رؤوسًا جهالاً ؛ فسئلوا ، فأفتوا بغير علم ؛ فضلوا وأضلوا.

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu agama dengan mencabutnya secara langsung dari para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu agama dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia akan mengambil orang-orang jahil (bodoh tak berilmu agama) sebagai para tokoh. Kemudian merekalah yang dijadikan tempat bertanya. Sehingga mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka, diri mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”

Para ahlul ilmi yang ikhlas telah mengingatkan bahayanya jenis manusia ini terhadap agama, aqidah (keyakinan) dan tempat kembalinya ummat ini. Para ahlul ilmi ini telah menetapkan wajib untuk berhati-hati dan memperingatkan dari mereka, tidak mengambil agama dari mereka.

Dan saya kutip perkataan dua ulama yang sangat gamblang menjelaskan permasalahan ini:

Pertama: Pendapat Abu Bakar Muhammad bin Ath-Thayyib Al-Baqilani rahimahullah, saat dia berkata dalam kitabnya Al-Inshaf hal. 114:

“Ketahuilah -semoga Allah merahmati aku dan kalian- bahwa ahlul bid’ah dan orang-orang yang sesat, baik dari kalangan Khawarij, Syiah Rafidhah, dan Mu’tazilah, telah bersungguh-sungguh untuk memasukkan bid’ah dan kesesatan mereka kepada ahlussunnah wal jamaah, namun mereka tidak mampu melakukan hal itu. Karena para ulama menolak kebatilan itu. Kemudian ahlul bid’ah dan orang-orang sesat itu menguasai satu kaum pada akhir masa, satu kaum yang berbicara ilmu agama padahal dia tidak memiliki ilmu dan pemahaman, yang benci dan sombong untuk belajar memahami agama dan mempelajari agama, karena dia telah dikedepankan menjadi guru-pengajar dengan sangkaannya. Dia melihat dengan kebodohannya bahwa hal itu adalah suatu aib. Itulah penyebab kesesatannya dan kesesatan sekumpulan dari ummat.”

• Kedua: Ucapan Ar-Raghib Al-Asbahaani rahimahullah:

“Tidak sesuatupun yang lebih wajib bagi penguasa daripada untuk mengawasi keadaan orang-orang yang dikedepankan dan ditokohkan dalam ilmu agama. Jika hal ini dibiarkan, maka akan tersebar kejelekan. Dan di antara manusia akan tersebar rasa saling benci dan menjauh … dan seterusnya.”

Beliau juga berkata: “Ketika satu kaum menampilkan diri jadi tokoh atau pemimpin dalam ilmu agama padahal dia tidak berhak, mereka mengada-adakan bid’ah yang tidak dibutuhkan orang awam dengan kebodohan mereka, mereka mendapatkan manfaat dan menjadi tokoh pemimpin, dan mereka mendapati bantuan dari orang awam dengan partisipasinya untuk mereka dan kedekatan esensi dari mereka. Mereka dengan itu membuka jalan-jalan (kesesatan) yang telah ditutup, dan menyingkap tabir yang dibentangkan, dan mereka meminta kedudukan orang-orang khusus dan mereka mencapainya tanpa malu-malu. Mereka itu serakah. Mereka membid’ahkan para ulama dan membodoh-bodohkan mereka untuk merampas kekuasaan mereka dan mencabut kedudukan mereka. Pengikut mereka membuat mereka tertipu, sampai mereka menginjak dengan kuku dan alas kaki mereka, sehingga muncul dengan hal itu kerusakan, kejahatan umum dan cela.”

Inilah dua nukilan indah, aku mengajak para ulama dan thalabul ilmi (penuntut ilmu syar’i) untuk merenungkan dan memperhatikan maknanya. Perhatikan kenyataan realitas kaum muslimin -saat ini- sesuai dengan penjelasan dua ulama besar ini. Apakah yang menyebabkan terjadi di antara manusia: para pemuda yang menyimpang aqidah (keyakinan)nya, munculnya tanda-tanda fitnah, lancangnya orang-orang shighar terhadap para ulama kibar (besar) ulama dakwah, dan keluarnya mereka dari jalan para ulama kibar yang berasal dari Al-Qur’an, sunnah, dan atsar yang disertai dengan pengetahuan yang sempurna tentang maqashid syari’ah dan mawaqi’ maslahah? Hal itu hanyalah karena rusaknya timbangan untuk mengetahui siapakah ulama yang sebenarnya dan menyusupnya orang yang tidak berilmu ke dalam jajaran para ulama kibar!

Telah benar sahabat besar Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu, ketika berkata:

إنكم في زمان كثير فقهاؤه قليل خطباؤه ؛ قليل سؤاله كثير معطوه ؛ العمل فيه قائد للهوى . وسيأتي بعدكم زمان قليل فقاؤه كثير خطباؤه؛ كثير سؤاله قليل معطوه، الهوى فيه قائد للعمل. اعلموا أن أحسن الهدى في آخر الزمان خيرٌ من بعض العمل

“Sesungguhnya kalian berada di masa banyak para fuqaha’ (ulama) dan sedikit para ahli oratornya, sedikit pertanyaannya banyak yang memberikannya, amal shalih pada masa itu pemandu hawa. Dan akan datang setelah kalian, masa sedikit para fuqaha’nya (ulamanya) banyak para ahli oratornya, banyak pertanyaaannya dan sedikit yang memberikannya, hawa nafsu pada masa itu menggiring amalan. Ketahuilah bahwa petunjuk terbaik pada masa akhir itu lebih baik dari sebagian amalan.”

Al-Hafizh berkata di dalam Fathul Bari: “Sanadnya shahih, dan ucapan semisal ini tidak keluar dari akal semata.”

Imam Malik telah mentakhrij atsar ini juga dalam Al-Muwaththa’ (1/173) dari Yahya bin Said: bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata kepada seseorang: “Sesungguhnya engkau berada pada satu masa banyak para fuqaha’nya (ulamanya)…” dan sampai akhirnya.

Kemudian Ibnu Abdil Barr berkata: “Penyelidikan pada masa ini menunjukkan benarnya makna (ucapan) ini seperti bukti.”

Ini pada masa beliau, lalu bagaimana dengan masa kita ini!?

http://sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=926

6 Responses to Ditokohkannya Orang Yang Jahil (Tak Berilmu) Di Jajaran Para Ulama Besar!

  1. anymous mengatakan:

    “satu kaum yang berbicara ilmu agama padahal dia tidak memiliki ilmu dan pemahaman, yang benci dan sombong untuk belajar memahami agama dan mempelajari agama”

    Salaf berkata:
    “Terus-menerus orang itu menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu) selama dia menuntut ilmu, jika dia mengira telah berilmu, maka sesungguhnya dia telah bodoh.”

    https://bimbinganislami.wordpress.com/2010/04/12/tawadhu’lah-bersikap-rendah-hatilah-karena-allah-wahai-penuntut-ilmu/

  2. anymous mengatakan:

    Para teroris yang sok berbicara agama, mungkin bisa dimasukkan dalam orang-orang bodoh ini, dimana mereka sesat dan menyesatkan. Mereka mengatakan terror mereka sebagai jihad. Bahkan mereka menamakan dirinya sebagai ‘salafi jihadi’. Lebih pantas mereka itu digolongkan sebagai khowarij (pemberontak) seperti yang pada jaman Utsman, Ali dan khalifah setelahnya. Dan memang mereka sebenarnya adalah pengikut ‘salaf’, tapi salafi mereka adalah golongan khowarij yang suka menghalalkan darah kaum muslimin, bergampang-gampangan dalam membunuh dan merampas atau merusak harta, kehormatan dan jiwa orang lain.

  3. anymous mengatakan:

    Orang suka berbicara agama padahal dia tidak tahu hukum syariat sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat dan para ulama ahlussunnah lainnya, kemudian berbicara tentang agama tanpa dalil al-qur’an dan as-sunnah juga mungkin bisa masuk dalam hadits ini. Orang itu hanya berbicara dengan logika akal atau hasil renungannya, kemudian dia berkata contohnya: Jilbab tidak wajib, karena si fulan si fulan tidak peke jilbab. Walaupun dia bertitel Doktor, atau KH Kyai Haji, atau ustadz atau pemikir islam, atau yang lain.

  4. anymous mengatakan:

    Ada lagi orang-orang yang baru masuk islam para muallaf, kita bersyukur kepada Allah atas masuk islamnya mereka. Tetapi karena semangatnya mereka untuk membela Islam, mereka jadi penceramah agama tanpa mempelajari Islam lebih dulu. Sehingga kadang pemikirannya dulu -sebelum dia taubat masuk Islam- masih membekas pada dirinya. Sehingga dikawatirkan dia berbicara agama Islam tanpa ilmu, berbicara agama dari hasil ra’yu (akal)nya saja.

  5. anymous mengatakan:

    Jawaban “Aku tidak tahu” atau “wallahu a’lam” ketika ditanya tentang suatu permasalahan agama dan dia tidak tahu, ini adalah setengah ilmu.

  6. faedah pelajaran mengatakan:

    “Allah mencabut ilmu agama dgn mewafatkan para ulama. Hingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, manusia akan mengambil orang-orang jahil (bodoh tak berilmu agama) sebagai para tokoh.”

    Dicabutnya ilmu itu bisa dengan dua hal:
    1. secara waqi’ (kenyataan); tidak ada para ulama.
    2. secara hukum; para ulama ada, tetapi org-org tidak mengembalikan urusan agama kepada para ulama, tetapi kepada para tokoh yang juhal, atau terlalu PD pada diri sendiri. Wallahul musta’an. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: