Akhlak Mulia Terhadap keluarga, sahabat dan kerabat

Dan di antara tanda-tanda akhlak yang baik terhadap sesama manusia adalah: hendaknya seseorang baik pergaulannya dengan teman-teman dan para kerabatnya yang bergaul dengannya. Tidak merasa resah dengan mereka dan tidak meresahkan mereka. Akan tetapi dia berusaha membuat hati mereka senang sesuai kemampuannya dalam batasan-batasan syariat Allah. Pembatasan ini mesti harus ada. Karena di antara manusia ada yang tidak merasa senang kecuali dengan perkara maksiat kepada Allah. Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian. Maka hal ini tidak sepantasnya untuk kita sepakati. Namun memasukkan rasa kegembiraan pada orang yang bergaul denganmu seperti: keluarga, teman-teman, dan para kerabat dalam batasan-batasan syariat adalah termasuk akhlak yang baik. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي)

“Sebaik-baik kalian adalah orang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.”[1]

Banyak manusia -sangat disayangkan sekali- terkadang berakhlak baik terhadap orang lain, akan tetapi ia tidak berakhlak baik terhadap keluarganya. Ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan keterbalikan dari hakekat sebenarnya (sebagaimana yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Karena bagaimana mungkin engkau berakhlak baik bersama orang yang jauh (kekerabatannya), dan engkau berakhlak buruk bersama kerabat sendiri? Kadang seseorang menjawab: Karena kerabat dekat mereka dapat dipercaya.

Maka kami menjawab: Ini bukanlah suatu alasan yang mendorongmu untuk berakhlak buruk bersama mereka. Kerabat adalah orang yang paling berhak untuk engkau perlakukan dengan baik dalam persahabatan dan pergaulan. Karena itu seseorang bertanya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَاحَبَتِي؟ قَالَ: ( أُمُّكَ ) قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ( أُمُّكَ ) قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ( أُمُّكَ ) قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ( أَبُوْكَ)

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakuan baik dariku?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.”[2]

Dan kadang juga masalah ini terbalik pada sebagian orang. Engkau mendapatinya bergaul jelek dengan ibunya, namun bisa bergaul baik dengan istrinya. Ia lebih mengutamakan pergaulan baiknya dengan istrinya, padahal istrinya kedudukannya seperti seorang tawanan di sisi suaminya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

(اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْراً فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ)

“Seringlah berwasiat yang baik terhadap kaum wanita, karena sesungguhnya mereka adalah tawanan di sisi kalian.”[3]

Maksudnya: kedudukan mereka seperti layaknya para tawanan.

Kesimpulannya bergaul baik bersama keluarga, sahabat, dan para kerabat, semua ini adalah termasuk akhlak yang mulia.

(Sumber: Makarimul Akhlaq oleh Syaikh Muhammad bin  Shalih Al-Utsaimin)


[1] Shahih. HR. At-Tirmidzi 3895, Ibnu Hibban dalam Shahihnya 1312 (–Mawarid), Ibnu Majah 1977, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ 3314.

[2] Shahih. HR. Al-Bukhari 5971, Muslim 2548, dan Ibnu Majah 2706.

[3] Hasan. HR. At-Tirmidzi 3078, Ibnu Majah 1851, dan dihasankan Al-Albani dalam Al-Irwa’ 1997-2020 dan Adabuz Zifaf 156.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: