Tidak Suka Membanggakan diri, sombong, zhalim dan aniaya

Di Antara Akhlak Yang Mulia Juga Tidak Berbangga (Fakhr), Sombong (Khuyala’), Baghyu, Dan Istithalah Terhadap Sesama, Baik Dengan Sebab Yang Benar Ataupun Tidak.

Adapun berbangga (fakhr) biasanya dengan perkataan, sedangkan sombong (khuyala’) dengan perbuatan. Baghyu maksudnya adalah kezhaliman, sedangkan istithalah artinya menganggap rendah orang lain dan merasa tinggi diri.

Manusia dilarang untuk menyombongkan dirinya terhadap yang lainnya dengan ucapan, seperti perkataan: “Saya ini orang ‘alim (berilmu)! Saya ini orang kaya! Saya ini pemberani!” Jika ia menambahi hal tersebut dengan meninggi-ninggikan harga dirinya di depan orang lain dengan berkata: “Apa kedudukan kalian di sisiku?” Maka dalam hal ini ia telah melampaui batas dan merasa tinggi diri atas orang lain.

Adapun sombong (khuyala’) biasanya dengan perbuatan. Seseorang sombong dalam gaya jalannya, wajahnya, ketika ia mengangkat kepala dan lehernya, ketika dia berjalan. Seakan dirinya sudah sampai langit. Allah Azza Wa Jalla telah mencela orang yang seperti ini perbuatannya. Dia berfirman:

{وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً}

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Al-Isra’: 37)

Maka wajib engkau menjadi orang yang rendah diri dalam perkataan dan perbuatan. Janganlah menyanjung-nyanjung dirimu dengan sifat-sifat yang terpuji, kecuali jika memang berkepentingan atau membutuhkan akan hal itu, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Ibnu Mas’ud:

(لَوْ أَعْلَمُ أَحَداً أَعْلَمَ مِنِّي بِكِتَابِ اللهِ تُبَلِّغُهُ اْلإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْهِ)

“Andai saja aku tahu ada orang yang lebih berilmu tentang Al-Qur’an daripada diriku dan dia bisa dicapai dengan unta, sungguh aku akan mengendarai unta tersebut menuju dia.”[1]

Sesungguhnya beliau radhiyallahu ‘anhu dengan hal itu memaksudkan dua perkara:

Pertama: Mendorong manusia untuk mempelajari Al-Qur’an.

Kedua: Menyeru mereka agar mau mengambil (ilmu Al-Qur’an) langsung darinya.

Orang yang mempunyai sifat-sifat terpuji selamanya takkan mengira bahwa orang lain tidak akan mengetahui sifat-sifatnya itu, baik dia menyebutkannya kepada mereka ataupun tidak. Bahkan jika seseorang menghitung-hitung sifat-sifat terpujinya di hadapan manusia, ia akan menjadi jatuh di mata mereka. Maka hati-hatilah terhadap perkara ini!

Sedangkan “baghyu” artinya adalah melampaui batas terhadap orang lain. Sedangkan tempatnya ada tiga, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

(إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ)

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas sesama kalian.”[2]

Maka melampaui batas orang lain bisa terjadi pada harta, darah, dan kehormatan.

Dalam masalah harta, seperti: mengakui apa yang bukan miliknya, mengingkari apa yang menjadi tanggungannya, atau mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Inilah contoh melampaui batas dalam masalah harta.

Dalam masalah darah: membunuh atau perbuatan yang lebih rendah dari pembunuhan; seperti: menganiaya seseorang dengan melukainya atau membunuhnya.

Dan dalam masalah kehormatan. Kemungkinan yang dimaksud dengan kehormatan bisa berupa pamor, seseorang dianiaya dengan ghibah, yang bisa memperburuk pamornya. Dan juga bisa berupa zina dan hal-hal yang lebih rendah darinya. Semuanya itu diharamkan. Maka termasuk akhlak yang mulia ialah tidak berbuat aniaya dalam masalah harta, darah, dan kehormatan.

Demikian juga dalam hal istithalah terhadap orang lain, yakni merasa lebih tinggi daripada orang lain, secara hak maupun tidak. Merasa lebih tinggi daripada orang lain adalah perbuatan yang dilarang, secara hak maupun tidak. Jadi istithalah adalah seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Hakekat dari perkara ini, bahwasanya termasuk mensyukuri nikmat Allah kepadamu, jika Dia memberimu suatu kelebihan dibanding orang lain, baik berupa harta, kedudukan, kepemimpinan, ilmu, dan lainnya, maka sepantasnya engkau bertambah tawadhu’ (merendahkan diri), sehingga engkau mampu menambah suatu yang lebih baik kepada satu kebaikan yang lainnya. Karena orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) saat dia berada pada posisi tinggi, itulah orang yang benar-benar merendahkan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

((… وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ))

“Tidaklah seseorang bersikap rendah diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”[3]

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

((إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا، حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ))

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku (untuk menyuruh) agar kalian bersikap rendah diri, sehingga seseorang tidak berbangga terhadap yang lain, dan tidak pula seseorang berbuat aniaya terhadap yang lain.”[4]

***


 

[1] Shahih. Al-Bukhari 5002 dan Muslim 2436.

[2] Shahih. Al-Bukhari 739, 1741 dan Muslim 1218, 1887.

[3] Shahih. HR. Muslim 2588.

[4] Shahih. HR. Muslim 2865.

(Sumber: Makarimul Akhlaq oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: