Kesempurnaan Akhlak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Siapakah orang yang paling sempurna akhlaknya? Tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang beliau:

{وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Dan dalam sebuah hadits yang shahih, bahwa Hisyam bin Hakim bertanya kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu ia menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” Kemudian ia berkata: “Sungguh aku ingin untuk berdiri dan tidak bertanya apa-apa lagi.”[1]

Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba yang paling sempurna akhlaknya dalam segala sisi kebaikan dan segala sifat serta perbuatan. Peristiwa-peristiwa serta kejadian-kejadian yang terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan akan kebaikan akhlaknya. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dulu juga berakhlak mulia meskipun bersama anak-anak. Beliau berlaku lemah-lembut dan bercanda dengan mereka. Dan ia pun berkata kepada salah seorang anak kecil:

((يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ))

“Wahai Abu ‘Umair, apa yang diperbuat oleh Nughair?”

Abu ‘Umair adalah kunyah bagi anak kecil, dan ia mempunyai nughair yaitu seekor burung kecil seperti burung pipit. Burung tersebut mati, sehingga Abu ‘Umair bersedih dan berduka. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berlemah-lembut kepadanya seraya berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apa yang diperbuat oleh Nughair?”

Dan begitu pula di antara kemuliaan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan rasa kasih sayangnya terhadap sesama, ketika seorang arab badui datang kemudian ia kencing di dalam masjid. Orang-orang pun melarang dan menghardiknya dengan keras. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mereka. Ketika ia selesai dari kencingnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta satu ember air, lalu disiramkan pada tempat kencingnya tersebut. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya lalu berkata:

((إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لاَ يَصْلُحُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنَ اْلأَذَى وَالْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِلصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ))

“Sesungguhnya masjid-masjid ini bukanlah tempat untuk membuang kotoran, akan tetapi sebagai tempat untuk mendirikan shalat dan membaca Al-Qur’an.”[2] Atau sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan sisi kemuliaan akhlak beliau dalam kisah ini sangat jelas sekali, dimana beliau tidak mencela orang arab badui ini dan tidak pula menyuruh untuk memukulnya. Bahkan beliau membiarkannya sampai dia menyelesaikan kencingnya. Kemudian beliau mengajarinya bahwa masjid-masjid itu tidak pantas (sebagai tempat untuk kencing) sebagaimana yang telah ia lakukan, namun hanyalah sebagai tempat untuk menunaikan shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.

Dan begitu pula, di antara kemuliaan akhlak dan rahmatnya shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kaum mukminin, ketika ada seorang laki-laki datang menemui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلَكْتُ!! فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((وَمَا أَهْلَكَكَ؟)) فَقَالَ الرَّجُلُ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ – يَعْنِي جَامَعَهَا فِي نَهَارِ رَمَضَانَ – فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: ((فَهَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ بِهِ رَقَبَةً؟)) قَالَ: لاَ. قَالَ: ((فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ)) قَالَ: لاَ. قَالَ: ((فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا؟)) قَالَ : لاَ. ثُمَّ جَلَسَ. فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ، فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَقَالَ لَهُ: ((تَصَدَّقْ بِهَذَا)) فَقَالَ الرَّجُلُ: عَلَى أَفْقَرَ مِنَّا؟! فَمَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا. فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: ((اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ))

“Wahai Rasulullah, aku telah binasa!” Lalu beliau bertanya padanya: “Apa yang membuatmu binasa?” Laki-laki tersebut menjawab: “Aku telah menyetubuhi istriku pada bulan Ramadhan.” Maksudnya: dia telah menjimai istrinya pada siang hari di bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu yang bisa engkau gunakan untuk memerdekakan seorang budak?” Dia menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau sanggup untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab: “Tidak”, lalu ia pun duduk. Kemudian didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam satu keranjang berisi kurma lalu beliau memberikannya kepada lelaki tersebut, kemudian berkata kepadanya: “Bersedekahlah dengan ini!” Dia berkata: “Apakah kepada yang lebih fakir daripada kami?! Tidak ada lagi di antara dua daerah bebatuan Madinah yang lebih membutuhkan dari diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun tertawa sampai-sampai terlihat gigi taringnya, lalu beliau berkata: “Pergilah, dan berikanlah kurma ini kepada keluargamu!”[3]

Kemuliaan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kisah ini nampak jelas sekali, dimana beliau tidak menghardik lelaki tersebut, dan tidak pula mencaci-maki atau bahkan mencelanya. Karena lelaki tersebut datang kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan menyesal, bertaubat, dan diliputi rasa takut. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun melihat dengan ilmu dan kebijaksanaannya, bahwa lelaki tersebut tidak pantas untuk dicela, akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepadanya kebenaran yang datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menyikapinya dengan lemah-lembut dan halus. Hal ini merupakan rasa kasih sayang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Allah puji dalam Al-Qur’an ketika Dia berfirman:

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَـنْهُمْ}

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka.” (Ali ‘Imran: 159)

Allah juga berfirman:

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(At- Taubah: 128)


[1] Shahih. HR. Muslim, Abu DAwud 1342, Ibnu Majah 2333, dan Ahmad 6/54, 91, 111.

[2] Shahih. HR. Al-Bukhari 219, 220, 6128, dan Muslim 284.

[3] Shahih. HR. Al-Bukhari 1936, 2600, dan Muslim 1111.

(Sumber: Makarimul Akhlaq karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: