Kenapa haram/bid’ah ikut madzhab salaf? (2)

Wajib untuk mengikuti manhaj salaf
Jawaban terhadap kedustaan atas manhaj salaf

Sepantasnya seorang yang mencela manhaj salaf (salafi/salafy) untuk tobat dari ucapan-ucapannya dan pemikiran (ra’yu)nya, yang telah jelas menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman para shahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka termasuk para imam madzhab dan lainnya seperti Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, serta Imam Muslim.
Harusnya dia mengatakan: “Lapang dada saya untuk tobat dari mencela manhaj salafi/salaf dan pengikut atsar dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa tidak?”
Baca pos ini lebih lanjut

Kenapa haram/bid’ah ikut madzhab salaf? (1)

Wajib untuk mengikuti manhaj salaf
Jawaban terhadap orang yang mencela pengikut manhaj salaf

Sepantasnya seorang yang mencela manhaj salaf (salafi/salafy) untuk tobat dari ucapan-ucapannya dan pemikiran (ra’yu)nya, yang telah jelas menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pemahaman para shahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka termasuk para imam madzhab dan lainnya seperti Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Al-Bukhari, serta Imam Muslim.

Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan
Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab seorang yang memusuhi dakwah Salafiyah:
“Dia mengira bahwa kami meninggalkan madzhab hambali sebagaimana dikatakan dalam risalahnya dan kami mengingkari untuk mengikuti madzhab yang empat karena mengaku salafiyah. Padahal kami hanyalah beramal dengan pendapat yang berlandaskan dalil baik dari madzhab yang empat atau yang lainnya. Inilah yang diwasiatkan oleh imam yang empat dan lainnya -semoga Allah merohmati mereka-. Sebagaimana telah diketahui dari ucapan mereka. Dan mengikuti Madzhab Hambali atau yang lainnya dari madzhab yang empat tidak bertentangan dengan salafiyah, sebagaimana dituduhkan kepada kami bahwa kami berpandangan bahwa hal itu bertentangan dengan salafiyah. Bahkan mengikuti mereka adalah salafiyah itu sendiri.” (Risalah Ar-Radd ‘Ala Ar-Rifa’i)
Baca pos ini lebih lanjut